Monday, October 13, 2008

UNBELIEVABLE EXPERIENCE

Dear All Alumni,

Sebenarnya sulit mengomentari keadaan sekarang di mana pasar
dalam keadaan panik yang luar biasa dasyat. Tidak pernah terbayangkan
sebelumnya dan jauh melampaui ambang batas rasional. VIX (Volatilitas
Index) yang menjadi "barometer ketakutan pelaku pasar" berkali-kali
mencetak rekor baru yang tidak pernah terjadi dalam sejarah. Umumnya VIX
di bawah 20 melambangkan kepercayaan yang tinggi dari para investor.
Semakin tinggi angka VIX menunjukkan ketakutan yang semakin tinggi. Sejak
tahun 2004 sampai menjelang akhir tahun 2007, VIX paling-paling hanya
mencapai 20, maksimum 25. Rekor tertinggi VIX adalah 57 - 61, yaitu pada
tahun 1998 saat krisis Asia, dan tahun 2001 saat Serangan Teroris yang
merubuhkan gedung kembar WTC di New York. Minggu ini VIX berlomba-lomba
menorehkan rekor baru. Dari 62, 63,64.....,70! Kemudian 71, 72, bahkan
sudah menembus 75!! UNBELIEVABLE!!!

Krisis ekonomi yang belum pernah terjadi dalam beberapa
generasi ini, sekarang mulai dibandingkan dengan krisis ekonomi
tahun 1930-an, yang dikenang dengan Era Great Depression. Peraih nobel
ekonomi Joseph Stiglitz mengatakan krisis saat ini benbentuk "L", artinya
tak jelas kapan pulihnya. IMF pun terpaksa mengakui dunia kini memasuki
sebuah penurunan aktifitas yang serius dan di ambang kejutan ekonomi
paling berbahaya sejak depresi besar.

Bursa Efek Indonesia (BEI) sampai harus ditutup mendadak (juga pertama
kali dalam sejarah) sejak tanggal 8 Oct sesi I mulai pukul 11.08 WIB
karena hancurnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok hingga
10,38% dalam beberapa jam. Sebelumnya pasar saham pernah tutup hanya
karena force majeur akibat peledakan bom. Direktur BEI, Erry Firmansyah
mengungkapkan bahwa kondisi ini sudah "irasional". BEI yang hari Jumat 10
Oktober 2008 mestinya sudah beroperasional kembali karena memang sudah
terlanjur diumumkan oleh Pihak otoritas, terpaksa terus ditutup. Meskipun
pihak otoritas harus menghadapi tekanan berbagai pihak, mereka tetap belum
membuka kembali bursa. "Hal ini ditempuh untuk mencegah kehancuran lebih
jauh lagi..." kata Direktur Perdagangan BEI MS Sembiring. Langkah
penghentian aktifitas bursa sementara (suspend) Indonesia mengikuti jejak
Brazil, Rusia dan Islandia.

Warren Buffet yang baru menginvestasikan USD 8 milyard ke GE
(General Electric) dan GS (Goldman Sachs) beberapa hari lalu sekarang
menghadapi paper loss milyaran dollar di kedua perusahaan itu saja, karena
GE dan GS terus merosot. Saham perusahaan Warren Buffet yang perkasa di
harga $147.000 / lembar pada tanggal 19/9/08, dalam beberapa hari
kehilangan nilainya lebih dari 30% (menuju $90.000/ lembar). Orang terkaya
di planet ini saat diwawancara media massa sempat berkomentar bahwa "Ini
adalah Tsunami Financial! Salah-salah saya bisa menjadi penjual koran
kembali jika tidak segera teratasi, candanya." Orang terkaya no. 12 dunia
versi majalah Forbes 2008, Sheldon Adelson, pemilik Casino Las Vegas Sand
(LVS) juga harus rela kehilangan sekitar 30% kekayaannya senilai $5
milyard karena saham LVS juga mengalami imbas yang cukup parah akibat
krisis ini. Mungkin tidak ada satupun investor atau negara adidaya
sekalipun yang lolos dari krisis finansial global kali ini.

EXPERIENCE IS THE BEST TEACHER.

Kejadian ini mengingatkan saya pada pengalaman pertama saya di dunia
saham, setelah krisis yang menghantam Asia tahun 1998, diperparah oleh
kerusuhan Mei pada saat itu. Kepanikan pasar saat itu justru membuat saya
mendulang profit, karena di saat itu saya mulai memborong saham-saham yang
sangat murah saat itu. Tahun itu IHSG terhempas dari 550an ke titik nadir
250-an. Kurang dari setahun kemudian IHSG sudah bertengger kembali di
angka 700! Saya yang mengalami euforia mulai gegabah dan merasa over
confidence.

Kurang dari 1 tahun kemudian saya harus mengulangi masa paling pahit dalam
hidup ini...., saya kehilangan segalanya! Memulai dari nol merupakan
kenangan pahit yang takkan terlupakan. Saat wipe-out dari market membuat
hidup ini rasanya berubah total. Di saat itu saya menulis dengan airmata :
"SAYA ADALAH SEORANG JUARA, YANG MEMILIKI MENTAL BAJA DAN PANTANG
MENYERAH. HARI INI SAYA GAGAL KARENA SAYA TAKABUR, PERCAYA DIRI BERLEBIHAN
DAN LUPA DENGAN TUHAN. NAMUN KESALAHAN INI BUKANLAH KEGAGALAN SELAMANYA,
KARENA SUATU HARI NANTI SAYA PASTI AKAN BANGKIT. JUARA SEJATI TAKKAN
PERNAH MENYERAH! NEVER GIVE-UP!"

Bekerja dan bekerja, membangun kembali puing-puing yang telah hancur,
sungguh menuntut kesabaran dan keyakinan. Apalagi saat itu saya baru
dikarunia seorang putra. Saya ingat, saat memandang wajahnya yang sedang
tidur semangat saya membara-bara. Meskipun sudah tersingkir dari market
saya tetap meluangkan waktu untuk mempelajari paper asset karena saya
bukan orang yang mudah menerima suatu kegagalan secara permanen. Waktu
berlalu..., tibalah saat di mana "kesempatan" itu datang. BEJ yang memang
sedang bearish dihentakkan oleh serangan teroris yang dikenal dengan Bom
Bali Oct02. Saya ingat IHSG terjungkal kembali ke level 330an, penurunan
yang lebih parah dari krisis moneter Asia tahun 98. Keberhasilan kali ini
tidak lagi membuat saya euphoria ataupun besar kepala. Saya sudah pernah
bersumpah saat memandangi wajah putraku dulu, bahwa saya akan berhasil,
dan setelah berhasil saya tidak akan melakukan kesalahan yang tidak
semestinya itu lagi.

Market yang sangat bullish terus berlanjut bertahun-tahun kemudian. Saya
tahu bahwa sejarah setiap saat bisa berulang, namun sekarang saya siap
"menghadapinya", kalau tidak mau dikatakan "menunggunya". Saya telah
belajar dari pengalaman maupun sejarah. Catatan sejarah Great Depression
membuat saya terbelalak. Indeks Dow kehilangan setengah nilainya dalam
sekejap pada Super-Crash 1929 yang dikenal dengan Black Tuesday. Depresi
berlanjut. Indeks Dow yang hampir mencapai level 400 meluncur terus sampai
titik nadir sekitar level 50! Bisa dibayangkan. Apakah kita akan selamat
jika kejadian itu terulang hari ini? (Always: Hope for The Best, Prepare
for The Worst)

Meskipun kondisi sekarang belum separah itu, dan saya kira tidak akan
sedemikian dahsyat, tetapi saya merasa tetap diperlukan perhitungan untuk
itu. Bukan pemilihan saham, indikator ataupun analis apapun yang akan
menyelamatkan kita dari bencana seperti itu, namun Money Management dan
Displin untuk menjalankannya. Untuk itu diperlukan sebuah PLAN yang sesuai
dengan karakter, risk profile, dan objektifitas masing-masing individu.

Saya yang pernah mengira bahwa krisis ekonomi paling parah dalam hidup
saya mungkin adalah Krisis Moneter Asia tahun 1998, tidak menyangka
melihat kejadian hari ini. Sulit diuraikan dengan kata-kata. Dalam hati,
setiap hari saya berdoa, semoga keadaan bisa segera membaik, karena kalau
terus berlanjut, kehancuran ekonomi global yang akan menyengsarakan banyak
orang telah di depan mata.

Saya yang cuti panjang sejak akhir tahun lalu dari kegiatan mengajar di
Mega Options karena menyusun buku Technical Analysis, merasa kehilangan
satu-satunya pekerjaan yang saya cintai di samping investing dan trading.
Namun saya juga merasa bahwa buku yang sedang saya susun sangat dibutuhkan
dan akan membantu banyak trader maupun investor di negara kita ini.
Sebenarnya setelah buku tersebut saya berencana akan melanjutan buku
berikut yang lebih kompleks tentang Money Management , Trading Plan dan
Psychology: bagaimana mengetahui perbedaan Trading dengan Investing dan
memaksimalkannya.

Namun saya pun menyadari bahwa dengan kondisi hari ini, alumni mungkin
lebih membutuhkan bimbingan. Seluruh founders Mega Options sepakat bahwa
hal ini lebih penting, dan berkomitmen terus memberikan yang terbaik. Saya
bahagia melihat sebagian alumni Mega Options masih profit meskipun keadaan
telah demikian parah. Mereka ini bukan karena jenius atau mempunyai
formula ajaib, tetapi merupakan hasil ketekunan selama ini yang dilandasi
kesabaran dan money management yang baik. Kita sering mendengar bahwa yang
terpenting bukan tentang Loss atau Win (money), tapi prosesnya! Saya
adalah orang yang yakin bahwa suatu hari nanti market akan mengambil
kembali dari orang-orang yang meskipun profit namun tidak ada rules (plan)
yang jelas.

Alumni yang secara konsisten melakukan strategi protective put & rolling
tentu tidak terpengaruh dengan kondisi saat ini, bahkan cenderung
menguntungkan karena dapat rolling put options yang sudah sangat ITM dan
menerima cash-in.

Sebagian lagi ada yang kehilangan profit yang telah diperoleh selama ini
akibat anjloknya bursa belakangan ini. Namun yang saya kuatirkan adalah
alumni yang mengalami nasib yang sama seperti saya 10 tahun yang lalu. Hal
ini bisa membawa trauma yang dalam jika tidak "bermental baja". Saya bisa
merasakannya karena pernah mengalaminya, dan sekarang saya merasa saatnya
membagi pengalaman saya yang perih namun berharga itu.

Semoga email ini bisa bermanfaat walau "nasi telah menjadi bubur". Dari
pengalaman kita selalu bisa memetik hikmah. Dari "bubur" itulah seseorang
bisa bertahan dan membuktikan dirinya adalah seorang Juara Sejati kelak.
Bila alumni ada yang ingin mendiskusikan porfolionya guna menganalisa
aktifitas trading maupun investingnya selama ini, guna belajar dari
kekurangan maupun kesalahan di masa lampau, dapat di print-out history
transaksi Anda dan dibawa saat pertemuan mingguan (Rabu jam 13.00-21.00)
di Mega Options.

Anda juga dapat meminta diskusi secara "one-on-one" dengan founders bila
menghendaki privasi.


"WINNER NEVER QUIT , QUITTER NEVER WIN"


Salam dari saya,
Edianto Ong.

0 comments: